E.M.M.A

Month

June 2013

1 post

Play
Jun 13, 2013

January 2013

1 post

Putri Duyung: Pak Gub, Apa Kabarnya Kaltim Green ? → timpakul.web.id

Selamat pagi, Pak Gubernur. Apa kabarnya pagi ini? Semoga hari ini cerah ya pak, hingga Bapak Gubernur, para pejabat Pemprov dan PNS Pemprov Kaltim dapat bersuka cita merayakan ulang tahun provinsi ini. By the way, sudah berapa tahun usia provinsi ini, Pak? Perayaan ulang tahunnya juga pakai kue tart dan balon warna-warni? Wah, pasti meriah ya.

Pak Gubernur, semoga bapak sudah kenal dengan saya. Saya Dugong. Tapi banyak manusia menyebut saya sebagai duyung. Dan Bapak tentunya pernah diceritakan tentang legenda Putri Duyung oleh ibu bapak kan? Ya, itulah saya. Saya hidup diantara padang lamun di lautan dangkal. Bapak tentunya sudah tahu apa itu padang lamun. Secara Bapak selalu meneriakan yel-yel, Kaltim …. Green … Kaltim Green… Yes… One man five trees… Yes.. yes… yes… yes… yesssssss!

Padang lamun itu seperti hamparan rerumputan bila di daratan Pak. Hijau. Ah.. tapi tidak lagi sekarang. Lebih sering berwarna coklat, karena sedimentasi yang terus terjadi. Bapak tentunya tahu, kenapa sedimentasi begitu tinggi di tempat saya tinggal ini. Ada banyak perkebunan kelapa sawit di hulu sungai. Juga semakin banyak bukaan lahan oleh pertambangan batubara. Kabarnya, Bapak juga merekomendasikan mereka untuk berusaha. Semoga tidak benar ya Pak. Kan Bapak selalu bersemangat untuk menjaga lingkungan hidup, pastinya tak akan memberikan rekomendasi untuk pengrusakan alam. Benar kan Pak?

Pak Gubernur, apakah Bapak sudah tahu, kalo di Teluk Balikpapan itu sedang ditebangi pepohonan mangrovenya? Bapak tahu kan bahwa Kaltim itu hanya punya 883.379 hektar hutan mangrove. Dan itupun tersisa 25,4%-nya saja yang masih baik. Tapi mungkin Bapak juga belum tahu, kalo tak jauh dari ruang kerja Bapak, juga ada pepohonan mangrove lho. Dulu cukup banyak, sekarang tak lebih dari lima batang. Semoga Bapak sempat berkunjung ke sana.

Oh ya, Pak, Bapak tahu capung kah? Kesiur, Pak. Ada satu jenis kesiur yang merupakan spesies temuan baru lho di Teluk Balikpapan. Namanya Gynacantha bartai. Lucu ya Pak, namanya. Gynacantha ini suka diantara pepohonan bakau, dan salah satunya yang ada di Teluk Balikpapan. Andai saja tak ada lagi pepohonan bakau, entah kemana mereka akan pergi. Dan tidak mungkin mereka akan berkunjung ke Lamin Etam, hanya untuk menyampaikan ke Bapak bahwa mereka telah kehilangan rumahnya.

Pak Gubernur, saya juga mau menyampaikan salam dari kawan saya, Orcaella brevirostris. Kata Orca, “Terima kasih sudah membuat patung dirinya di depan halaman kantor dan rumah dinas Bapak.” Mereka senang sekali, masih ada yang mengingat mereka. Kabarnya dahulu keluarga mereka sering berenang di depan kantor Bapak. Tapi sekarang, keluarga mereka enggan bermain-main di sana. “Sudah terlalu bising”, katanya. Dan Orca sekarang lagi tinggal di Teluk Balikpapan juga Pak. Menjadi tetangga terbaik bagi saya. Dia dan saudaranya senang sekali bermain-main di teluk ini. Ada banyak ikan-ikan yang mengenyangkan.
Ikan-ikan itu, tumbuh dan berkembang diantara akar-akar pepohonan mangrove. Kalau saja mangrovenya menjadi tiada, dimana lagi ikan-ikan itu akan berlindung dan berkembang biak? Kalau tak ada lagi ikan-ikan itu, kasihan kan si Orca, dia tak punya lagi makanan untuk bisa bertumbuh dan bermain-main di perairan Kaltim ini.

Pak Gubernur, Bapak kan selalu meneriakkan Kaltim Green. Kaltim Green itukan gerakan untuk tetap menghijaukan provinsi ini? Bukan sekedar mengecat perkantoran dengan warna hijau kan Pak? Kaltim Green itu menanam dan tidak menebang. Kaltim Green itu agar saya, Orca, Gyna, Perioph, dan banyak teman-teman lain tetap bisa hidup, bermain, berlajar, dan bertumbuh diantara rerimbunan pepohonan. Tentunya bukan sekedar pohon Trembesi kan Pak? Mangrove kan juga pepohonan unik, yang semakin sedikit keberadaannya di dunia.

Dan padang lamun yang ada di sekitar Pulau Balang itu, sebentar lagi akan menghilang, Pak. Saya dan keluarga saya sangat senang bermain-main diantara lambaian lembut lamun-lamun itu. Jembatan yang melintasi Pulau Balang semakin menambah sedimentasi, yang kemudian secara perlahan membunuh hamparan lamun. Disana kami tinggal, Pak. Disana kami hidup, Pak. Sudah terlalu banyak aliran tanah akibat perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batubara. Dan sekarang juga ditambah oleh perluasan kawasan industri dan pembangunan jalan-jembatan yang melalui Pulau Balang.

Pak Gubernur, tentunya Bapak tak ingin mimpi Bapak untuk menjadikan Kalimantan Timur lebih hijau, lebih mensejahterakan warganya, serta menyediakan tempat yang nyaman bagi saya dan teman-teman saya itu tidak terwujud kan? Iya kan, Pak? Butuh sebuah keberanian untuk bertindak, dan tentunya berpihak Pak. Bukan sekedar jargon, teriakan, pidato, hingga celotehan tak penting.

Mari membaca ulang rencana pembangunan yang dibuat oleh Bapak dan staf-staf yang membantu kerja-kerja Bapak. Apakah memang benar, cita-cita Kalimantan Timur menghijau itu benar-benar bisa terlaksana? Apakah dengan tetap dibiarkannya perusahaan pertambangan batubara yang tak ramah terhadap alam itu, akan berkontribusi positif bagi penurunan emisi gas rumah kaca? Apakah terus dibukanya perkebunan kelapa sawit itu akan menjadikan lebih baik bagi ekosistem?

Pak Gubernur, selain lahan rawa dan rawa bergambut, kawasan ekosistem mangrove juga merupakan salah satu areal yang terpenting untuk pengikatan karbon dan penurunan emisi gas rumah kaca. Kalau kawasan ini terbuka, maka akan sangat banyak gas rumah kaca yang dilepaskannya. Artinya, mimpi Bapak untuk menjadikan Kaltim itu memiliki pembangunan rendah karbon telah sirna. Mangrove, itu serupa dengan gambut, karst, kerangas, dan hutan hujan awan. Mereka adalah ekosistem unik, yang tinggal sedikit di dunia. Dan Kaltim memilikinya. Kalau Bapak terus membiarkannya tergerus, Kaltim akan punya apa lagi?

Pak Gubernur, terima kasih sudah tidak membaca celotehan tak penting saya ini. Ulang tahun provinsi yang entah keberapa tahun ini, akan lebih bermakna, andai saja Bapak mau menghentikan segala bentuk proyek pemerintah dan swasta yang menghancurkan ruang hidup bagi saya dan teman-teman saya. Pak Gubernur, warga provinsi ini akan sangat berterima kasih dan memberikan tepuk-tangan sambil berdiri, andai saja Bapak berani tegas memberikan sanksi kepada perusahaan yang merusak alam. Tapi semua ini hanya pengandaian, Pak.

Pak Gubernur, maaf bila celotehan dari tepi padang lamun ini hanya menjadikan Bapak harus melamun. Pandanglah jendela ruang kerja Bapak. Saksikanlah terus mengeruhnya aliran Mahakam. Saya dan teman-teman saya di Teluk Balikpapan akan terus mempertanyakan kabar Kaltim Green. Semoga kabarnya akan baik-baik saja selalu. Salam hangat untuk keluarga. Dan selamat bersenang-senang, Pak Gubernur. (

Ade Fadli. 2013)

Jan 8, 20132 notes

April 2012

6 posts

Apr 4, 201289 notes
Apr 4, 20121 note
Apr 4, 20121 note
Apr 4, 201251 notes
Apr 4, 20122 notes
Play
Apr 4, 20123 notes

March 2012

7 posts

Earth Hour 2012: This is our act

Warief Djajanto Basorie, Jakarta | Wed, 03/14/2012 10:13 AM

Cik Rini in Banda Aceh, Emma in Samarinda and Muzakir Imran in Gorontalo are among 18 young people who will bring Earth Hour to 18 cities from Aceh in the west to Sulawesi in the east of Indonesia.

In 2011, the annual worldwide event to switch lights off for 60 minutes on one night took place in five cities in Indonesia, all in Java. In 2012, it will go beyond the Java Sea. 

In Java, the event will be commemorated in Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Malang, Surabaya, Kediri and Sidoarjo. Outside Java, Banda Aceh, Banjarmasin, Samarinda, Manado, Gorontalo and Makassar will also participate. 

“The 18 young people contacted us; they are ordinary people. They do not belong to an organization. They wanted to coordinate Earth Hour in their individual local cities. 

“We showed them how to do it: Get the cooperation of the local government, local businesses, local media, community groups, students, and get local funding,” WWF-Indonesia campaign coordinator for climate and energy, Verena Puspawardani, said.

At 8:30 p.m. on March 31, the 18 cities will dim their lights for one hour. Lights will go out at city icons, government buildings and commercial centers. 

In the logo “Earth Hour 60+”, the “60” means 60 minutes focused on action to save energy and reduce carbon emissions, which are the main cause of global warming that brings about climate change. 

The “+” sign means Earth Hour activities should not be for 60 minutes alone. It calls for added activities during daily life to support carbon emissions’ reduction. 

Use public transport. Save water. Stop littering. Reduce paper and plastic use. Use non-plastic bags 
for shopping. Recycle organic kitchen waste. Plant trees. Reduce, reuse and recycle.

This year is the fourth time in as many years that WWF-Indonesia, an independent conservation organization, organized Earth Hour. In 2009, its theme was “Save the Earth or let it die, your choice”. 

In 2010: “Change the world in 1 hour.” And in 2011: “After 1 hour, make it your lifestyle” and the “60+” logo was introduced.

For 2012, the theme is a pitch to motivate people not yet familiar with Earth Hour: “This is my act. What’s yours?” 

People are challenged to do something positive to induce greater change and set an example. It could be going on a diet or even become a vegetarian. It could be cycling or even walking to work.

Another feature in Earth Hour is that the 18 coordinators will each make an action plan for their city and engage the local governments to participate in an Earth Hour Indonesia award program, “Earth Action: City Category”. 

It is to nominate one government building, one energy efficient kampung community, and one school for the Earth Action award. They will be judged on three criteria: The “3R” principle (reduce, reuse, recycle), energy and a green lifestyle. 

Evaluation takes place over a six-month period, from September 2012 to March 2013, by a local jury that will report to a prime jury at the national level.

Although these long-term activities are ambitious, the short-term benefits are tangible. Some 68 percent of Indonesia’s power consumption is within the Java-Bali grid. Of that, 23 percent is consumed in Jakarta and neighboring Tangerang. 

Jakarta has a population of 10 million people. If on March 31, one-tenth of its residents turn their lights off for one hour, 300 megawatts of power will be saved. 

This is enough to provide electricity to 900 villages, according to WWF-Indonesia. 

Further, it reduces power bills by Rp 200 billion (US$22 million) and cuts carbon dioxide emissions by 267 tons.

If 10 percent of Jakarta residents are active on Earth Hour, 700,000 households will each turn off two light bulbs for one hour. 

If 10 percent of the nation’s population are to do the same thing, that’s action with a multifold gain.

The writer teaches journalism at Dr. Soetomo Press Institute (LPDS), Jakarta.

Mar 14, 2012
#Samarinda
WHAT IS YOUR FAVORITE INANIMATE OBJECT?

His name is GT-S5570

Mar 14, 2012
Mar 14, 2012127 notes
Play
Mar 5, 20121 note
Mar 4, 20121 note
Mar 4, 20121 note
Mar 4, 20121 note

January 2012

2 posts

Jan 17, 201266 notes
Jan 17, 201217 notes

December 2011

1 post

Play
Dec 14, 2011

November 2011

6 posts

PAGUNTAKA CITY IN MEDIA: UPAH MEMBUNUH MONYET RP. 200 RIBU, ORANGUTAN RP. 1 JUTA → paguntakacity.blogspot.com

HUMAN : THE REAL BEAST !!

Nov 21, 2011
Sign The Petition Now! → thepetitionsite.com

Stop Capitalism slavery, homicide and Corporate greediness in Indonesia! -Occupy Freeport- 


Nov 8, 2011
Next page →
2012 2013
  • January 1
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June 1
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2011 2012 2013
  • January 2
  • February
  • March 7
  • April 6
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2011 2012
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November 6
  • December 1